

MAKALAH TROLLING
DISUSUN OLEH :
Aulia Fauziah Putri (11518214) Carolina
Elisa Damayanti (11518502) Insyira Muthia Khansa (13518340) Mira Yosephin
Sirait (17518794) Rahadatul Aisy Putriani (15518798) Sayyidah Tasyiah
(16518566)
FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS GUNADARMA 2019
KATA PENGANTAR
Puji syukur saya panjatkan kepada Tuhan YME. Karena
rahmatNya kami bisa menyusun makalah berjudul “Trolling” ini dengan tepat
waktu, guna memenuhi tugas mata kuliah softskill Psikologi dan Teknologi
Internet.
Kami berharap makalah ini berguna serta bermanfaat dalam
meningkatkan pengetahuan dan wawasan
terkait dengan trolling. Selain itu kami sadar bahwa pada
makalah kami banyak kekurangan serta jauh dari kata sempurna oleh sebab itu.
kami menanti kritik dan saran yang membangun agar kedepannya menjadi lebih baik lagi.
Depok,
Maret 2020
Penulis
BAB 1: PENDAHULUAN
BAB II: ISI
2.3. Trolls........................................................................................ 3
2.3.1. Siapa Trolls?.................................................................. 3
2.3.2.
Bagaimana Trolls Bekerja?............................................ 4
2.3.3.
Perilaku Psikopat, Sadistik, Empati, dan Motivasi
Menyakiti pada Seorang Troll....................................... 6
BAB III: PENUTUP...................................................................................... 13
KESIMPULAN............................................................................... 13
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Trolling adalah salah satu hal yang sering kita temui di
kehidupan sehari- hari. Peran trolling dalam kehidupan sehari-hari sangat
mempengaruhi banyak orang, terutama pengguna media social di dunia maya. Tidak
hanya orang tua, tapi juga muda. Trolling kemungkinan akan terus ada di masa mendatang.
Mengingat peranan internet yang semakin besar dalam
tahun-tahun mendatang, tentunya banyak peneliti dibutuhkan yang sangat
terampil, andal, kompeten, dan berwawasan luas, baik di dalam disiplin ilmunya
sendiri maupun dalam disiplin ilmu lainnya yang saling menunjang. Untuk menjadi
peneliti tidaklah mudah, harus benar-benar serius dalam belajar, tidak hanya
dalam dunia nyata tapi juga penelitian di dunia maya, seperti internet
trolling, bullying, flaming, body shaming, dan semacamnya.
1.2 Rumusan Masalah
1.
Apa itu trolling dan internet trolling?
2.
Siapa yang melakukan internet trolling?
3.
Contoh kasus internet trolling
4.
Etika berkomunikasi
5.
Cara menghindari internet trolling
1.3 Tujuan Penulisan
1.
Dapat memahami apa itu trolling dan internet trolling
2.
Dapat menjelaskan contoh kasus internet trolling dan pelakunya
BAB II ISI
2.1. Pengertian Trolling
Trolling sering dideskripsikan sebagai versi online dari
eksperimen pelanggaran, dimana batas-batas sosial dan aturan etiket diabaikan.
Mereka yang mengaku sebagai troll sering memposisikan diri sebagai Devil's
Advocate, gadflies atau culture jammers, untuk menantang pendapat umum atau asumsi umum dari forum yang mereka ikuti,
dengan tujuan untuk mengalihkan atau mengenalkan cara berpikir yang baru.
Troll sering digambarkan sebagai orang yang berada di
lingkungan yang salah. Namun hal ini sering diakibatkan karena kesalahan
atribusi mendasar, karena sering kali tidak mungkin untuk mengetahui identitas
sebenarnya dari individual yang mengikuti debat online. Mengingat umumnya troll
yang serius sebenarnya 'mengetahui' batas-batas sosial, maka sulit untuk memposisikan
mereka sebagai orang yang berada di lingkungan yang salah, karena sebenarnya
mereka sangat fasih terhadap tujuan-tujuannya.
2.2. Pengertian Internet Trolling
Internet troll mengacu pada orang yang mengirim pesan
(atau juga pesan itu sendiri) di Internet dengan tujuan untuk membangkitkan
tanggapan emosional atau kemarahan dari pengguna lainnya. Istilah ini juga
sering disalahgunakan untuk memojokkan lawan diskusi dalam debat-debat panas
dan sering juga disalahterapkan untuk mereka yang tidak peduli terhadap etika.
Trolling sering dideskripsikan sebagai versi online dari
eksperimen pelanggaran, dimana batas-batas sosial dan aturan etiket diabaikan.
Semacam anonimus yang dengan sengaja untuk memanasnya konflik. Studi psikologis
menunjukkan troll cenderung laki-laki, menunjukkan tingkat yang lebih tinggi
sifat psikopati - rendahnya tingkat empati, rasa bersalah atau tanggung jawab
atas
tindakan mereka
- dan tingkat yang lebih tinggi dari sifat sadisme - kenikmatan menyebabkan
penderitaan fisik dan psikologis orang lain.
Troll adalah juga termotivasi oleh Apa yang oleh
psikolog disebut "penghargaan sosial atipikal". Umumnya, orang
termotivasi dengan menciptakan lingkungan sosial yang positif (penghargaan
sosial yang khas dan positif). Tapi troll
menunjukkan motivasi yang
lebih tinggi untuk
mencapainya negatif penghargaan sosial, seperti menciptakan kekacauan
sosial dan gangguan.
Jadi, strategi lain yang telah diterapkan pada perilaku
adiktif (misalnya kecanduan internet) dapat digunakan untuk memodifikasi
perilaku troll. Terapi perilaku kognitif (atau CBT, terapi bicara yang
menargetkan pikiran negatif, emosi, dan perilaku), kelompok pengobatan mandiri,
terapi kelompok, dan bahkan terapi keluarga adalah metode yang efektif. untuk
mengobati kecanduan, terutama kecanduan internet.
2.3. Trolls 2.3.1.Siapa Trolls?
Trolls adalah orang yang memulai membuat kesal
orang-orang di internet, biasanya mengunggah sesuatu yang diluar topik
pembicaraan, atau sesuatu yang dianggap menyakiti, menganggu, ataupun hal lain
yang bisa membuat orang di komunitas daring seperti ruang obrolan, atau
kelompok berita yang pada umumnya politik.
Beberapa tahun belakangan, dunia daring sering
menggunakan kata troll untuk seseorang yang memberikan komentar yang
mengolok-olok, intimidasi, agresif, merendahkan seseorang, dan beberapa hal
negative lainnya.
Ada 3 jenis troll di daring yang
umumnya dipakai:
1.
Bot digunakan oleh troll untuk otomatis membagikan
secara otomatis sebuah tulisan dengan
diarahkan oleh manusia
tapi tanpa campur
tangan
manusia, dan
biasa dipakai untuk membuat suatu tulisan menjadi topik popular di Twitter
walaupun sebenarnya tidak.
2.
Troll dalam kata lain adalah manusia yang berinteraksi
dengan pengguna social media lain dan biasanya memecah belah dengan gaya yang
kasar. Trolls juga berperan dalam obrolan privasi yang memberikan informasi
salah kepada pengguna acak untuk membantu koordinasi unjuk rasa ataupun diskusi
hal politis lain.
3.
Sedangkan social bots adalah versi bot tradisional
dengan kemampuan digital lebih maju. Mereka memiliki kemampuan mengikuti
pengguna social media, dan bisa memanipulasi opini public dan menganggu
komunikasi terorganisir.
2.3.2. Bagaimana Troll Bekerja?
Internet Research Agency (IRA) menggunakan bot dan troll
untuk memanfaatkan media social yang tidak diketahui dengan berbagai macam
metode. Informasi salah yang berhasil bekerja karena mereka memanfaatkan
kerentanan kognitif umum ke manusia dan menggunakan target spesifik dari sebuah
komunitas. Target spesifik dari sebuah komunitas ini mudah berkembang menjadi
besar dan sangat pesat, dan juga bertambah dalam skala yang besar.
Fungsi utama IRA adalah untuk menabur perselisihan
antara masyarakat Amerika dengan niat menganggu pemilu amerika serikat dengan
menganggu proses deomkratis. Ditemukan di tahun 2013 lebih dari 600 pekerja
diminta untuk merusak reputasi calon kandidat presiden Hillary Clinton, dan
dengan berkesempatan memecah belah Amerika dan mendukung kebijaan Kremlin
dengan menggunakan keterlibatan media social dan iklan di media social.
IRA mencari cara untuk meluaskan kesenjangan social
dengan cara mendorong komunitas berbeda menjadi satu komunitas yang homogen
dengan membangun ketegangan di antara mereka. Contohnya adalah perilaku yang
terekam dalam aktivitas popular di social media daring seperti facebook dan
twitter. Selama IRA interaksi dengan social media besar sebesar angka blog
daring, berita,
dan pelayanan video, penelitian ini berfokus utama pada statistic pola perilaku
pengguna twitter dan facebook.
Koleksi bot, troll, dan social bot, membuat lawan yang
variative, dengan perbedaan gaya interaksi membuat ketiga hal ini sulit di
deteksi dari pengguna normal dan pengguna daring lainnya. Dan banyak sekali
penelitian yang berfokus pada pendeteksi bot dan troll. Disini ada kesepakatan
Bersama kalau bot tradisional menunjukkan pola perilaku, berkomunikasi, emosi
dan meta data yang membuat mereka lebih mudah terdeteksi.
Algoritma mendeteksi bot ini sebagai penghubung koneksi
yang kemungkinan bisa menghapus mereka dari wadah social media yang mereka
gunakan. Bot ini memliki kemampuan untuk menunjukkan dirinya sebagai warganet
yang normal dan membuat banyak kesalahan yang membuat mereka bereproduksi
dengan angka tingi tapi terbatas dalam kesatuan dalam propaganda asli yang
tersebar. Bot bisa dengan mudah dibuat dalam skala yang besar dan banyak tapi
kemampuannya terbatas.
Dengan alasan yang jelas, troll lebih sulit diindentifikasi
di daring. NATO Strategic Communication Centre of Excellence mengklasifikasikan
troll kedalam lima kelas untuk mengidentifikasi mereka lebih baik.
1.
“blame the US conspiracy trolls”, untuk menebear
ketidak percayaan dan perselisihan
2.
“bikini trolls”, untuk melihat gambaran target
3.
“aggressive trolls”, untuk menganggu orang lain pergi
agar tidak berpartisipasi dalam obrolan daring
4.
“Wikipedia trolls”, untuk mengedit unggahan dan
halaman daring untuk memberikan keuntungan untuk oposisi
5.
“attachment trolls”, untuk berulang kali menghubungkan
kepada wadah konten berita Rusia
Walaupun troll tidak menawarkan petunjuk dan pola
perilaku seperti bot, itu membantu mengkategorikan mereka seperti bot. Deteksi
dengan perbedaan kecil dan gaya yang mirip pada foto profil atau pengguna
asosiasi semi otoriter
membantu mengidentifikasi troll di media social, tapi tidak ada sains
yang sempurna seperti mereka benar-benar layaknya manusia dengan niat
menghindari terdeteksi.
2.3.3. Perilaku psikopat, sadism, empati, dan motivasi untuk menyakiti pada seorang troll
Perilaku trolling menilai psikopat dan narsistik
menunjukkan dapat memprediksi anti-sosial pada perilakunya di dunia daring.
Narsistik lebih membangun ‘pertahanan’ yang menutupi perasaan nyata individu
dan menggunakan orang lain sebagai penghiburan. Tidak seperti seseorang yang
memiliki psikopat tingkat dua dan narsistik, BPD (borderline-personality
disorder), meliputi tingkat tinggi neurotic, impulsive, dan antagonisme
interpersonal. Perilaku trolling pada psikopat tingkat dua dan narsistik
menunjukkan dapat memprediksi anti-sosial lain pada perilaku di dalam
komunikasi daring.
Dua korelasi varian antara prediksi gender, psikopat
tingkat dua, narsistic, empati kognitif, empati afektif, potensi negative
social, dan BPD menunjukkan data bahwa orang yang narsistik cenderung lebih
melakukan internet trolling, dan variable gender tidak bisa menentukan gender
apa yang lebih cenderung melakukan internet trolling.
Perilaku sadistic cenderung melakukan perilaku trolling,
dan menikmati menyakiti, menghina, memalukan, merendahkan atau menghinakan
orang lain, dan menikmati menonton atau melihat orang lain tersakiti atau dihina.
Empati kognitif cenderung untuk melakukan internet
trolling tapi hanya jika memiliki ciri-ciri psikopat tinggi. Ini menunjukkan
bahwa internet troll dapat memprediksi apa yang membuat orang lain kesulitan
berbagi apa yang dirasakan. Penjelasan terbaik adalah kemungkinan besar troll
tergantung pada konteks yang dibahas apa.
Kesimpulan yang dapat diambil adalah internet troll
terus menerus dapat skor tinggi pada ciri psikopat umum, ciri tinggi pada
sadistic, skor rendah pada
empati afektif, skor tinggi pada empati kognitif, dan skor rendah pada
narsistik yang mudah terkena kritikan. Gender pada internet troll muncul
tergantung pada konteks trolling, seperti apa hal yang di troll, dan dimana
troll ini terjadi. Dapat disumpulkan juga, troll adalah orang yang menikmati
menonton orang yang disakiti dan suka menyakiti pada orang lain tanpa
membagikan perasaan yang dirasakan dan apa motivasi si troll dalam melakukan
hal ini, keberhargaan diri seorang troll tidak dapat menentukan perilaku
trolling, dengan sederhana mereka melakukan trolling karena mereka
menikmatinya.
2.4. Contoh Kasus Trolling
Fakta yang harus diketahui para orangtua: situs
internet, juga jejaring sosial media, kerap menjadi pelarian remaja dari dunia
nyata. Dan, bukan mustahil pengaruh
dunia maya lebih kuat dibandingkan kehidupan nyata. Seperti yang terjadi pada
remaja asal Inggris bernama Hannah Smith. Gadis 14 tahun itu adalah korban
bullying situs online. Pada Jumat, 2 Agustus 2013 lalu, Hannah ditemukan tewas
gantung diri di rumahnya. Ia tak bisa lagi menahan caci maki yang ditujukan
padanya. Bahkan sering diminta bunuh diri, oleh orang-orang yang tak jelas
identitasnya. Troll (orang yang sering mengejek di dunia maya) di situs Ask.fm
lah yang membuat Hannah begitu depresi. Seperti dilansir Daily Mail, Selasa,
(6/8/2013), penindasan yang dilakukan oleh para troll terkait dengan kelebihan
berat badannya, kematian paman Hannah karena kanker, juga kecenderungan untuk
menyakiti diri sendiri. Bahkan, berdasarkan pengakuan dari teman-teman
terdekatnya, troll menyuruhnya untuk meminum pemutih pakaian. Bullying yang
ditujukan pada Hannah sudah berlangsung beberapa bulan sebelum ia memutuskan
untuk bunuh diri. Seperti pada 5 April 2013 lalu. Pengejeknya mencacinya,
"Kau seharusnya bunuh diri. Lagipula tak ada yang peduli
padamu."Hannah pun menjawab, "Asal kau tahu saja, aku memang sudah
mencoba bunuh diri. Namun, mendapat ejekan dari orang-orang yang hanya ingin
bersembunyi di balik komputer, tidak membuatku merasa kalian semua lebih baik
daripadaku."
Pada 5 Juli 2013, seorang troll menulis kata-kata
kejam, "Pamanmu pantas terkena kanker, dan mati." Hannah yang depresi
berusaha untuk berani membalas,
"Pamanku memang terkena kanker, dan sayangnya dia
memang meninggal. Aku sangat merindukannya. Dia adalah pria yang hebat.
Menurutku, dia sama sekali tak pantas terkena kanker. Oh ya, aku harap kau
berhenti menjadi anonim, jadi aku bisa mengetahui identitasmu." Sementara,
pada tanggal 20 Juli, troll menulis untuk Hannah dengan keji, "Kau sungguh
jelek. Lebih baik kau mati saja. Aku yakin, semua orang pasti senang."
Lalu dibalas oleh Hannah, "Ya, aku memang jelek. Tetapi kau jelas lebih
‘jelek’ dariku. Kau punya kepribadian minus dengan menyuruh orang untuk
mati." Meski, terakhir digunakan Kamis,
1 Agustus 2013 lalu, kemarin ejekan dan komentar yang kasar masih terlihat di
profil Hannah dalam situs Ask.fm. Ada juga beberapa pengguna ada yang memuji
menampilannya dengan mengatakan tubuhnya proporsional--tidak gemuk. Sehari
sebelum Hannah memutuskan untuk mengakhiri hidupnya, gadis itu mengunggah foto
di Facebook berisi tulisan, "Kau pikir kau ingin mati, tetapi
kenyataannya kau hanya ingin
diselamatkan." Polisi masih menyelidiki kasus ini dengan memeriksa
komputer dan ponsel Hannah. Namun, belum ada keterangan lebih lanjut dari
kepolisian setempat.
Kasus bunuh diri Hannah disebar oleh ayahnya, David
Smith melalui jejaring sosial Facebook. Itu dilakukannya untuk mendorong para
orangtua untuk menghentikan anak-anak mereka menggunakan Ask.fm, situs yang
berbasis Latvia. Pada Sabtu, 3 Agustus 2013 lalu, pria berusia 45 tahun itu menulis
di Facebook, "Aku baru saja melihat pesan berupa makian yang ditujukan
pada putriku dari pengguna Ask.fm. Dan, menurutku, fasilitas identitas anonim
di situs itu adalah kesalahan."
David menyerukan, seharusnya pencipta website itu
dituntut dengan pembunuhan. "Secara tidak langsung, orang yang membuat
situs ini sudah melakukan pembunuhan," kata pria yang berprofesi sebagai
sopir truk itu. Sementara, pacar Hannah, Kris Cooper ikut menyuarakan
kesedihannya dengan menulis di Facebook. "Beristirahatlah dengan tenang,
Hannah Jayne Louise Mei Smith. Surga baru saja menyambut seorang malaikat yang
cantik." Teman dan keluarga Hannah yang merasa kehilangan, mengenang
Hannah juga dengan menulis di Facebook, "Hannah Smith, seorang gadis muda
cantik yang dicintai
semua orang,
tetapi memutuskan mengakhiri hidupnya sendiri setelah di-bully. Kami akan
merindukanmu putri. Kami mencintaimu."
Ask.fm sendiri adalah situs yang digunakan sebagai
sarana tanya jawab. Situs ini memungkinkan semua penggunanya untuk bertanya
kepada pengguna lain, tanpa identitas atau anonim. Lalu, pertanyaan yang telah
dijawab akan terpampang di laman profil si pengguna. Ask.fm berbasis Latvia,
Eropa bagian utara. Situs ini memiliki pengguna lebih dari 60 juta dan
memungkinkan siapa saja melihat nama, foto, dan informasi pribadi anak
laki-laki dan perempuan asal berusia minimal 13 tahun. Oleh karena bisa
bertanya bebas tanpa diketahui identitas, situs ini sering disalahgunakan bagi
para troll atau orang yang melakukan bullying melalui pertanyaan atau kata-kata
kasar pada pengguna lain. Terkait kasus bunuh diri itu, pihak Ask.fm mengaku
tak bertanggung jawab atas yang terjadi dalam situs, karena mereka tak
memonitor posting. Hannah bukan yang pertama. Ada 4 orang tewas sepanjang tahun
2012 lalu akibat ditindas di media sosial.
Dua di antaranya terjadi pada musim gugur 2012 lalu,
dua siswi Irlandia yaitu Ciara Pugsley (15) dari Leitrim, dan Erin Gallagher
(13) juga bunuh diri setelah menjadi sasaran bullying oleh anonim dari
internet. Baru-baru ini, pada bulan April 2013, Josh Unsworth (15) dari
Lancashire, Inggris ditemukan gantung diri setelah menerima caci makian selama
berbulan-bulan.
2.5. Etika Berkomunikasi Daring
1.
Remember the Human, saat berada di dunia online,
manusia tidak hanya berinteraksi dengan gambar-gambar, video atau tulisan,
tetapi manusia juga berinteraksi dengan manusia
2.
Adhere to the same standards of behavior online that
you follow in real life, etika dan hukum juga berlaku di dunia online seperti
di dunia nyata. Kita tidak bisa bertindak sesuka hati yang bisa merugikan orang lain.
3.
Know
where you are in cyberspace, kita harus memahami lingkungan dimana kita
beroperasi secara online, seperti peraturan dan kebiasaan sebelum kita
memposting sesuatu
4.
Respect other people’s
time and bandwith, spamming atau trolling tentu mengganggu waktu orang lain,
ada baiknya kita menghargai orang yang kita bagikan sesuatu dengan waktu yang
tepat dan ukuran dokumen yang tepat
5.
Make
yourself look good online, kita perlu belajar bagaimana menulis sesuatu dan
berperilaku yang baik secara online. Jangan membuat tulisan atau mengomentari
sesuatu yang membuat Anda terlihat bodoh karena Anda tidak mengetahui atau
menguasai topik tersebut. Terlebih, jangan membuat informasi hoax. Berikanlah
informasi yang benar dan sesuai dengan fakta.
6.
Share
expert knowledge, para pengguna internet yang sudah ahli atau lebih dulu
memahami tentang dunia online hendaknya membantu atau membimbing para pemula
tersebut. Janganlah menghina atau membully mereka yang baru. Namun,
bagaimanapun juga sebaiknya kita jangan mengklaim bahwa diri kita adalah
seorang yang sangat ahli di suatu bidang yang tidak kita kuasai.
7.
Help
keep flame wars under control, jika terjadi hal-hal peperangan, sebaiknya kita
justru membantu meredam perang tersebut. Kita bisa menjadi penengah dengan
memberikan pemahaman atau alternatif solusi.
8.
Respect other people’s
privacy, tindakan seperti hacking, membagikan hal privasi orang lain tanpa
izin, dan semacamnya, sungguh tidak sopan dan mengganggu privasi orang lain
9.
Don’t abuse your power,
para pengguna online atau web tersebut memiliki kekuasaan dan mereka bisa saja
menyalahgunakan kekuasaannya itu, missalnya untuk menunjukkan ke orang banyak
bahwa kemampuan teknologi atau informasi yang dimilikinya melebihi rata-rata,
dan beberapa pihak memakainya untuk cyberbullying, atau menyalahgunakan data
privasi orang lain
10.
Be forgiving of other
people’s mistakes, cobalah untuk lebih sopan dan informatif ketika kita
menemukan suatu kesalahan dan maafkanlah
para
pengguna internet baru atau pemula yang tidak tahu bagaimana cara berinteraksi
yang baik di internet
2.6. Cara Menghindari Internet Trolling
1.
Menggunakan platfrom yang baik dapat mempermudah untuk
melawan internet troll, contohnya menggunakan Gammification atau Gamifikasi,
itu merupakan desain situs yang menggunakan tugas atau kepatuhan terhadap
aturan menunjukkan ke pengguna untuk berperilaku positif. Beberapa sistem
memungkinkan pengguna untuk menambah poin agar mendapatkan peningkatan status
lebih tinggi, yang dapat menentukan seberapa tinggi komentar akan berakhir di
utas. Sedangkan Troll akan muncul di bagian bawah daftar karena jenis sistem
ini dan memberi mereka sedikit perhatian.
2.
Baca berita secara keseluruhan, jangan hanya menilai
dari judulnya. Ini merupakan bagian dari fenomena baru dalam jejaring media
sosial. Sering sekali pengguna media sosial sekedar ikut-ikutan menyebarkan
bahkan mengomentari hal-hal yang sedang ramai dibicarakan di media sosial tanpa
membaca berita secara keseluruhannya
3.
Menggunakan Metode anti-trolling otomatis, terutama
terdiri dari pemblokiran akun palsu dengan mengidentifikasi apakah beberapa
alamat IP memiliki banyak akun, dan menunjukkan aktivitas yang tidak biasa,
dalam bentuk mengirim banyak pesan ke bukan teman sesama misalnya facebook dan
jika permintaan pertemanan mereka ditolak terus-menerus.
4.
Jangan memberi mereka perhatian yang mereka cari.
Apakah mereka merasa diabaikan dalam pekerjaan mereka atau terbengkalai oleh
keluarga mereka, mereka menganggap diri mereka tidak mendapatkan perhatian yang
pantas mereka dapatkan. Jadi mereka online dan mencari tempat untuk mendapatkan
perhatian yang mereka inginkan.
5.
Jangan marah. Saat troll datang setelah Anda di
Internet, mereka mencoba mendapatkan tanggapan negatif. Membuat marah memberi
mereka apa
yang mereka inginkan, dan mereka akan melanjutkan perilaku mereka selama
mereka mendapatkannya. Sebagian besar dari kita yang pernah mengalami murka
troll Internet mengalami momen mendidih darah saat kita ingin memukul. Jika ini
terjadi pada Anda, berhenti, menjauhlah dari komputer Anda, tarik napas
dalam-dalam, dan ingat bahwa reaksi dari Anda memberi makan troll.
6.
Blokir troll, bila seseorang mengeposkan komentar
negatif tentang Anda atau sesuatu yang Anda katakan di media sosial, sebagian
besar waktu Anda memiliki kekuatan untuk memblokirnya. Mereka mungkin terus
memposting hal-hal ini, tapi mereka kehilangan sebagian dari kekuatan mereka
saat Anda tidak dapat melihat apapun itu. Akhirnya mereka akan beralih ke orang
lain, untuk menemukan apa yang mereka cari.
BAB III PENUTUP KESIMPULAN
Dari pembahasan makalah di atas dapat disimpulkan bahwa
troll bisa membahayakan dan merugikan banyak pihak, dan kita sebagai pengguna
daring yang bijak tentunya harus belajar bagaimana menjadi pengguna daring yang
baik, seperti etika komunikasi daring yang sudah dicantumkan di atas. Trolling
tidak hanya dating dari satu kategori atau kelompok pengguna social media,
melainkan banyak sekali kategorinya, mulai dari yang sadistic, hingga
narsistik, namun, tentunya tidak semua orang yang trolling tidak dapat dihindari,
kita bisa menjaga diri kita dari trolling dengan ilmu yang kita miliki setelah
membaca makalah ini.
DAFTAR PUSTAKA
1.
Jussinoja, Terho. (2018). Life-cycle of Internet Trolls. Jyväskylä. University of Jyväskylä.
2.
Anwar, Fahmi. (2017). Perubahan dan Permasalahan Media Sosial. Jakarta. Kalbis Institute
Jakarta
3.
Merisha Dwi Puspita dkk.(2018). Fenomena Internet Trolling di Media Sosial. dikutip dari http://ilmukomunikasia16.blogspot.com/2018/11/tugsd-jurnalisme-online- fenomena.html?m=
4.
Kenworthy, Steven. (2019). Homophily and the Internet Research
Agency: How a Russian Troll Farm Exploits American Social Media Behavior.
Ohio. The Ohio State University
5.
Natalia, El Chris. (2016). Remaja, Media Sosial, dan Cyberbullying.
Jurnal Ilmiah
Komunikasi.
Volume 5. 129-139
6.
March, E. (2019). Psychopathy,
sadism, empathy, and the motivation to cause harm: New evidence confirms
malevolent nature of the Internet Troll. Personality and Individual Differences.
Volume 141. 133–137.
doi:10.1016/j.paid.2019.01.001
7.
https://id.wikipedia.org/wiki/Troll_internet. diakses pada 26 Maret 2020
8.
https://id.innerself.com/content/social/culture-wars/15835-how-empathy-
can-make-or-break-a-troll.html. diakses pada 18 Maret 2020
Komentar
Posting Komentar