MAKALAH LGBTQ+ COMMUNITY

DISUSUN OLEH :
Aulia Fauziah Putri (11518214) Carolina
Elisa Damayanti (11518502) Insyira Muthia Khansa (13518340) Mira Yosephin
Sirait (17518794) Rahadatul Aisy Putriani (15518798)
Sayyidah Tasyiah (16518566)
FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS GUNADARMA 2020
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan YME. Karena
rahmatNya kami bisa menyusun makalah ini dengan tepat waktu, guna memenuhi
tugas mata kuliah softskill
Psikologi dan Teknologi Internet.
Kami berharap makalah ini berguna serta bermanfaat dalam
meningkatkan pengetahuan dan wawasan
pembaca. Selain itu kami sadar bahwa pada makalah ini banyak kekurangan serta jauh dari kata
sempurna oleh sebab itu, kami menanti kritik dan saran yang membangun agar
kedepannya menjadi lebih baik lagi.
Depok,
Juli 2020
Penulis
DAFTAR ISI
2.1. Pengertian LGBTQ+ Community............................................. 3
2.2.
Sejarah
Singkat LGBTQ+ Community..................................... 4
2.3.
Anggota LGBTQ+
Community................................................ 6
2.4.
Kegiatan LGBTQ+
Community................................................ 12
2.5.Legalisasi LGBTQ+ Community di Indonesia.......................... 13
2.6.Pandangan Masyarakat Dunia dan Legalisasinya..................... 17
2.7. Pandangan Masyarakat Indonesia............................................ 26
BAB III: PENUTUP....................................................................................... 28
KESIMPULAN.............................................................................................. 28
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
LGBTQ+ Community belakangan
ini menjadi perbincangan hangat di berbagai media social seperti Facebook,
Instagram, dan tidak ketinggalan laman berita daring yang membahas terkait
komunitas ini. Penulis merasa hal ini penting untuk dipelajari karena sudah
beberapa orang di sekitar kita yang mengaku sudah menjadi bagian dari komunitas
yang sudah mendunia ini.
Komunitas ini juga banyak dibahas dan didukung oleh
selebriti papan atas Hollywood seperti
Lady Gaga, Anne Hathaway, Jennifer Hudson, Jennifer Lopez, Demi Lovato, termasuk
Youtuber Eugene Lee Yang dari The Try Guys, pembawa acara Ellen
DeGeneres dan lainnya.
Pada bulan Juni kemarin, komunitas ini mengadakan parade
tahunan yang sudah dimulai sejak 1969 dan menjadi kegiatan rutin komunitas ini
setiap tahun. Brenda Howard merupakan pencetus parade ini. Dengan berbagai hal
yang penulis baca di daring dan melihat beberapa orang di sekitar penulis yang
berada dalam komunitas ini, hal ini merupakan hal yang menarik untuk penulis
untuk dibahas.
1.2 Rumusan Masalah
1.
Apa itu LGBTQ+ Community dan kegiatannya?
2.
Siapa saja yang bergabung dalam komunitas ini?
3.
Bagaimana pandangan masyarakat luas tentang komunitas ini?
4.
Bagaimana legalisasi komunitas ini di dunia dan Indonesia?
1.3 Tujuan Penulisan
1.
Dapat memahami LGBTQ+ Community secara umum
2.
Dapat memahami orientasi seksual pada klien di masa
mendatang secara umum
BAB II ISI
2.1. Pengertian LGBTQ+ Community
LGBT atau GLBT adalah akronim dari "lesbian, gay,
biseksual, dan transgender". Istilah ini digunakan semenjak tahun 1990-an
dan menggantikan frasa "komunitas gay" karena istilah ini lebih
mewakili kelompok-kelompok yang telah disebutkan. Akronim ini dibuat dengan
tujuan untuk menekankan keanekaragaman "budaya yang berdasarkan identitas
seksualitas dan gender". Kadang-kadang istilah LGBT digunakan untuk semua
orang yang tidak heteroseksual, bukan hanya homoseksual, biseksual, atau
transgender. Maka dari itu, sering kali huruf Q ditambahkan agar queer dan
orang-orang yang masih mempertanyakan identitas seksual mereka juga terwakili
(contoh. "LGBTQ" atau "GLBTQ", tercatat semenjak tahun
1996).
Istilah LGBT sangat banyak digunakan untuk penunjukkan
diri. Istilah ini juga digunakan oleh mayoritas komunitas dan media yang
berbasis identitas seksualitas dan gender di Amerika Serikat dan beberapa
negara berbahasa Inggris lainnya. Tidak semua kelompok yang disebutkan setuju
dengan akronim ini. Beberapa orang dalam kelompok yang disebutkan merasa tidak
berhubungan dengan kelompok lain dan tidak menyukai penyeragaman ini. Beberapa
orang menyatakan bahwa pergerakan transgender dan transeksual itu tidak sama
dengan pergerakan kaum "LGB". Terdapat pula keyakinan
"separatisme lesbian & gay", yang meyakini bahwa kelompok lesbian
dan gay harus dipisah satu sama lain. Selain itu, ada juga yang tidak
menggunakan istilah ini karena mereka merasa bahwa: akronim ini terlalu
politically correct; akronim LGBT merupakan sebuah upaya untuk mengategorikan
berbagai kelompok dalam satu wilayah abu-abu; dan penggunaan akronim ini
menandakan bahwa isu dan prioritas kelompok yang diwakili diberikan perhatian
yang setara. Di sisi lain, kaum interseks ingin dimasukkan ke dalam kelompok
LGBT untuk membentuk "LGBTI" (tercatat
sejak tahun
1999. Akronim "LGBTI" digunakan dalam The Activist's Guide of the Yogyakarta Principles in Action.
2.2. Sejarah Singkat LGBTQ+ Community
Kata gay berasal dari Bahasa Perancis Kuno Abad ke-12
yang memiliki arti penuh suka cita, ceria, cahaya hati dan periang, kemudian
gay mengalami pergeseran makna menjadi mencari kesenangan melalui kegiatan
seksual yang tidak biasa (Zusy Aryanti, 2016: 44). Gay adalah seorang
homoseksual berjenis kelamin laki-laki yang memiliki pasangan erotis, cinta
maupun afeksinya juga laki-laki.
Biseksual berasal dari kata bi yang berarti dua dan
sexual yang berarti persetubuhan antara laki-laki dengan wanita, sehingga biseksual
dapat diartikan sebagai ketertarikan kepada dua jenis kelamin yaitu laki-laki
maupun perempuan (ketertarikan ganda) (Masthuriyah Sa’dan, 2016: 18). Biseksual
dapat dikatakan sebagai perilaku menyukai lawan jenis ataupun sejenisnya,
sehingga di satu waktu menjalin hubungan dengan lawan jenis tetapi di lain
waktu dapat menjalin hubungan dengan sesama jenis.
Transgender secara etimologi berasal dari dua suku kata,
yaitu trans yang memiliki arti berpindah tangan/berpindah tanggungan/pemindahan
dan gender yang memiliki arti jenis kelamin (Pius A. Partanto dan M. Dahlan Al
Barry: 757). Sehingga transgender secara umum dapat diartikan sebagai perubahan
jenis kelamin dari lakilaki menjadi wanita ataupun sebaliknya.Istilah
transgender juga dikenal dengan istilah transesksual yang berasal dari Bahasa
Inggris, berarti pergantian jenis kelamin. Pergantian jenis kelamin ini
dilakukan dengan cara melakukan prosedur operasi pergantian kelamin yang
didasarkan kepada keinginan individu bersangkutan karena menginginkan adanya
perubahan anatomi tubuh mereka. Pada zaman sejarah kuno (1700 SM) kode
Hammurabi secara luas dianggap sebagai penyebutan awal lesbian di dokumen
sejarah yang masih ada sampai sekarang. Kode Hammurabi tersebut memuat
referensi wanita yang disebut salzikrum (secara harfiah berarti: “anak
laki-laki”), tetapi merupakan
perempuan yang
diizinkan untuk menikahi wanita lain. Kode ini juga berisi penyebutan awal kata
transgender. (lgbt, 2016).
Pada zaman Yunani kuno hubungan seksual antara
sesamawanita hampir tidak disebutkan dalam setiap literaturnya. Hal ini hanya
dibahas secara singkat bersama heteroseksualitas dan homoseksualitas laki-laki
yang disampaikan Aristohanes dalam pidatonya. (LGBT, 2016).
Gerakan Homophile (1945-1969) dimulai pada akhir 1940-an
dengan kelompok-kelompok di Belanda dan Denmark, dan berlanjut sepanjang tahun
1950an dan 1960an dengan kelompok- kelompok di Swedia, Norwegia, Amerika
Serikat, Prancis, Inggris dan tempat lain. ONE, Inc., organisasi homoseksual
publikSementara itu, di San Francisco, organisasi pemuda LGBT Vanguard dibentuk
oleh Adrian Ravarour untuk 48 menunjukkan kesetaraan, dan anggota Vanguard
memprotes persamaan hak selama bulan April-Juli 1966, diikuti oleh kerusuhan
Compton pada bulan Agustus 1966, di mana pelacur jalanan transgender di
lingkungan miskin Tenderloin memberontak melawan pelecehan polisi di restoran
populer sepanjang malam, Kantin Gene Compton. pertama di AS, didanai oleh pria
transeksual kaya Reed Erickson. Pada bulan Mei 1979, sebuah organisasi lesbian
pertama yang didirikan di Amsterdam, Belanda yang bernama Center for Culture
mencetuskan sebuah ide untuk mendirikan monumen peringatan bagi kaum
homoseksual dari The Gay Group of The Pasifist Socialist Party. Dari ide ini
mereka mendapatkan banyak dukungan, baik kelompok maupun individu yang terdiri
dari 7152 grup gay, lesbian, dan dukungan dari dunia internasional. Pada tahun
1978, dibentuk International Lesbian and Gay Association (ILGA), dimana
asosiasi ini merupakan sebuah institusi yang memperjuangkan hak-hak asasi kaum
lesbian dan gay. Dan pada masa ini pula, diperkenalkan simbol yang digunakan
oleh kaum LGBT yaitu bendera pelangi yang sekarang telah tersebar luas ke
seluruh dunia sebagai pedoman dan lambang kaum LGBT untuk meraih hak-hak
asasinya. (lgbt, 2016).
Ada beberapa bahasa yang para lesbi tidak ketahui
dikarenakan mereka berasal dari komunitas yang berbeda. Bahasa tersebut
mempunyai makna yang berbeda jika mungkin diartikan dalam Bahasa Indonesia yang
sebenarnya. Hal itu
bertujuan agar dapat digunakan pada situasi tertentu yang mana jika
kelompok lesbi tersebut sedang berkumpul dan ada outsider atau orang lain yang
datang yang merupakan non lesbi maka mereka akan menggunakan simbol bahasa
tersebut.
Yang mana outsider tersebut tidak akan mengetahui makna
atau arti darisebuah bahasa tersebut. Contoh bahasa-bahasa tersebut adalah L
,belok ,line, beb, pem, GF, lurus, no label, double, linak, american style,
pecongan. L ,line dan Belok yang merupakan persamaan lesbi, beb adalah Butchi
atau yang berperan sebagai laki- laki dalam hubungan lesbi. pem merupakan Femme
atau yang berperan sebagai perempuan dalam hubungan lesbi, GF merupakan
pasangan/pacar lesbi, lurus merupakan wanita heteroseksual, no label lesbi yang
tidak masuk dalam kategori, double adalah dua pasangan lesbi yang sedang
berpacaran, linak merupakan laki-laki heteroseksual, pecongan merupakan
pasangan lesbi yang sedang berpacaran.
Selain itu terdapat pula sikap isyarat atau gesture yang
mana merupakan salah satu mekanisme tindakan dalam proses menjalani perannya
sebagai seorang lesbi. Sebagai seorang lesbi ia akan mempunyai sikap atau
perilaku yang memiliki 10 perbedaan dengan wanita lainnya. Contoh perilaku
tersebut adalah Memberi tatapan, perhatian yang lebih pada wanita dan berusaha
mendekati perempuan yang dia sukai. Seorang lesbi akan memperlihatkan
ketertarikannya pada wanita yang ia sukai layaknya wanita heteroseksual.
2.3. Anggota LGBTQ+ Community
Gay dan Lesbi, kedua istilah ini digunakan untuk
mendeskripsikan seseorang yang memmiliki rasa ketertarikan romantis dan/atau
seksual pada sesama jenis. Istilah 'gay' dipakai untuk laki-laki, dan 'lesbi'
untuk perempuan. Secara umum gay dan lesbi disebut homoseksual, yang merupakan
kebalikan dari heteroseksual, yaitu orang yang menyukai lawan jenis atau juga
disebut 'straight'. Kebanyakan pria gay selalu menjaga penampilan dan selalu
ingin tampil trendy serta modis dan akan selalu update tentang penampilan. Pada
umumnya pria yang memiliki kehidupan seks yang normal akan menyukai kaos warna
- warna baju
yang gelap serta netral, berbeda dengan pria penyuka sesama jenis, ia
lebih menyukai warna - warna yang mencolok. Dari bahan kaos pun akan sangat
berbeda antara pria normal dan pria gay, jika pria normal menyukai kaos yang
sedikit agak longgar, tapi seorang pria gay akan menyukai kaos serta kemeja
yang ketat atau slimfit supaya lekuk tubuhnya yang di hasilkan fitnes akan
terlihat dengan jelas. Tatanan rambutnya juga akan selalu up to date dan tampil
lebih klimis serta trendy di bandingkan dengan pria normal.
Memiliki bentuk tubuh yang atletis sangatlah penting
bagi kebanyakan pria gay, maka dari itu ia selalu menjaga fisik serta bentuk
tubuhnya. Karena bagi mereka, otot yang mereka miliki sama seperti wanita yang
memiliki bagian tubuh yang meninjol seperti payudara. Bagi mereka, semakin
besar dan kencang ototnya, maka akan semakin percaya dirilah ianya. Kebanyakan
pria gay juga memiliki tatapan yang sangat tajam serta mendalam terhadap pria
yang ia sukai. Bagi seorang pria gay, menjaga wangi serta kebersihan diri
adalah hal yang penting. Ia tidak akan merasa keberatan untuk membeli parfum
berkelas yang harganya mahal untuk memiliki bau wangi di tubuhnya.
Kebanyakan pria gay biasanya memiliki bentuk tubuh yang
sedikit agak gemulai seperti halnya wanita, walau pun aslinya ia memiliki
bentuk tubuh yang lumayan atletis, akan tetapi dari cara bicara atau mungkin
jari kelingking yang selalu terangkat pada saat ia sedang mengerjakan sesuatu
atau sedang minum, atau mungkin pada saat ia sedang tertidur, jari kelingkingnya
selalu melentik atau pun menjauh dari jari manisnya.
Kebanyakan pria gay bukan hanya menyukai fitnes saja, ia
juga sangat suka untuk berbelanja, seperti halnya membeli pakaian, keperluan
dapur atau mungkin kosmetik (Transgender kali ia suka beli kosmetik). Biasanya,
pria gay selalu memiliki pakaian yang bermerk dan selalu up to date soal info
branded. Pada umumnya pria gay sangat menyukai jenis film yang romantis,
apalagi soal (sensor). Seorang pria gay memiliki hati yang peka sama seperti
halnya wanita, ia akan mudah atau ikut menangis jika menonton film yang sedih.
Biseksual/bi, digunakan untuk menggambarkan seseorang
yang memiliki rasa ketertarikan romantis dan seksual pada sesama jenis atau
lawan jenis. Jadi, dapat dikatakan jika seseorang tertarik pada laki-laki dan
juga perempuan. Sedangkan panseksual adalah seseorang yang memiliki rasa
ketertarikan fisik, romantis, atau seksual pada siapa pun, tanpa melihat
identitas gender dan jenis kelaminnya
Queer, istilah ini digunakan oleh sebagian orang,
umumnya anak muda dengan orientasi seksual yang nggak secara eksklusif
heteroseksual. Terkadang, mereka yang mengaku queer, merasa kalau label 'gay',
'lesbi', atau 'bi' terlalu membatasi
preferensi dirinya. Namun,
ada juga yang
merasa kalau dirinya queer
dan 'gay'/'lesbi'. Istilah ini telah dipakai beberapa orang dalam komunitas
LGBTQ+, namun nggak sepenuhnya diresmikan atau diterima oleh komunitas itu
sendiri, Bela.
LGBTQ+ merupakan akronim untuk lesbi, gay, biseksual, transgender, dan queer, juga pada sekelompok orang yang nggak diidentifikasikan
heteroseksual. Terkadang, huruf ‘Q’ dalam akronim tersebut
juga melambangkan 'Questioning'.
Aseksual adalah istilah yang digunakan untuk
mendeskripsikan seseorang yang nggak merasakan ketertarikan seksual, sedangkan
alloseksual adalah istilah yang menggambarkan seseorang memiliki dan merasa
ketertarikan seksual.
Aromatik merupakan istilah untuk menggambarkan seseorang
yang nggak memiliki ketertarikan romantis, alias nggak merasakan ketertarikan
untuk mencinta, sedangkan androfilik / androseksual menggambarkan seseorang
yang secara seksual, secara estetika, dan/atau secara romantis tertarik pada
maskulinitas. Bicurious sama dengan “questioning” seseorang mengaku bicurious
ketika ia sedang mencari tahu jika dirinya tertarik pada sesama jenis, sama
seperti dirinya tertarik pada lawan jenis.
Demiromantik jika ada yang gak memiliki ketertarikan
romantis, ada namanya demiromantik. Istilah ini menggambarkan seseorang yang nggak
memilliki
ketertarikan romantis, sampai dirinya mengalami ikatan emosional atau seksual
yang kuat dengan pasangannya.
Demiseksual sama dengan demiromantik, demiseksual
menggambarkan seseorang yang nggak memiliki ketertarikan seksual, sampai
dirinya merasakan hal itu pada suatu kondisi tertentu. Misalnya, setelah
membangun ikatan emosional yang kuat dengan
pasangannya.
Gineseksual atau ginefilik merupakan kebalikan dari
androseksual, istilah ini digunakan untuk menggambarkan seseorang yang
mengalami ketertarikan pada feminin. Baik itu ketertarikan secara seksual,
estetika, dan/atau romantis.
Polyamorous istilah ini menggambarkan seseorang yang
memiliki hubungan dengan banyak orang dan dijalani dengan sadar. Artinya,
seseorang yang menjalani hubungan polyamorous
ini berbicara secara terbuka dengan pasangan-pasangannya mengenai
keinginannya mengalami ketertarikan seksual dan/atau romantis pada banyak
orang. Biasanya, mereka yang menjalani hubungan ini akan menetapkan beberapa
peraturan tertentu, tergantung pada persetujuan masing-masing pihak.
Skolioseksual, istilah ini digunakan untuk menggambarkan seseorang yang
tertarik pada genderqueer, transgender, atau orang-orang non-binary.
Ketertarikan itu dialami baik secara seksual, romantis, maupun estetik.
Faktor-faktor penyebab homoseksual banyak pendapat dari
para ahli, diantaranya adalah Kartono (2009) penyebab terjadinya Jurnal
Psikologi Talenta, Maret 2018 Harmaini, Lisya Chairani, Fella Purwanty I 13
homoseksual atau gay adalah faktor herediter, pengaruh
lingkungan yang tidak baik, pengalaman traumatis, dan adanya keinginan untuk
mencari kepuasan relasi homoseksual.
Menurut Tan (Budiarty, 2011) menilai penyebab lesbian
dari beberapa segi kehidupan antara lain adalah (a) Pengaruh keadaan keluarga
dan kondisi hubungan orang tua seperti
contoh hubungan antara
ayah dan ibu
yang sering cekcok. Antara orang tua dan dengan anak-anak yang tidak
harmonis atau bermasalah. Absennya hubungan ayah dan renggangnya hubungan
antara anak
dengan ayahnya yang sering dianggap menjadi penyebab anak menjadi
homoseksual. Tetapi asumsi tersebut belum terbukti.
Menurut
Soetjiningsih (Sumadi, Suriadi
& Kirana, 2013)
Broken home diduga bisa menjadi pencetus pembentukan pribadi
penyimpangan seksual lesbian tersebut. (b) Pengalaman seksual buruk pada masa
kanak-kanak seperti pelecehan seksual atau kekerasan seksual. (c) Pengaruh
lingkungan memiliki pengaruh yang sangat besar bagi seseorang untuk berkembang.
Wanita lesbian saat ini sudah membagi diri mereka menjadi beberapa jenis
yaitu Butchy, Femme, Andro dan No Label.
Akan tetapi ada dua tipe lesbian yang sering kali
dibedakan Jones dan Hesnard (Nurmala, Anam & Suyono, 2006) yaitu perempuan
maskulin yang berhasrat meniru laki- laki, yang biasa disebut butch dan seorang
feminin yang takut terhadap laki-laki, yang biasa disebut Femme. Kumpulan anak
belok yang menetapkan diri mereka sebagai Buchy berpakaian dan berperilaku
layaknya seperti seorang laki-laki. Mereka hampir memanipulasi atau menutupi
identitas diri sebagai seorang perempuan dengan memotong rambut pendek, memakai
pakaian dan produk yang dirancang untuk laki-laki, menahan suara agar
terdengar berat bahkan menutupi
payudara dengan menggunakan
miniset, korset atau menggunakan benda lainnya agar lekukan pada
payudara tidak kelihatan menonjol.
Butchy berusaha mengurangi sisi feminim dan menonjolkan
sisi maskulinitas. Beberapa orang yang mengalami gangguan identitas gender
berharap dapat hidup seseorang dari jenis kelamin yang berlawanan dan merekapun
bertingkah laku memakai pakaian sesuai dengan jenis kelamin yang menjadi
harapannya tersebut (Halgin & Whitbourne, 2010). Pada wanita yang
menempatkan diri mereka sebagai
Femme, lebih terlihat
feminim. Akan sangat sulit membedakan wanita yang
menempatkan diri mereka sebagai
Femme karena mereka berpenampilan layaknya seperti wanita normal pada
umumnya. Sedangkan pada wanita yang menempatkan diri mereka sebagai Andro adalah seorang wanita yang bisa
menjalin hubungan dengan seorang laki-laki ataupun dengan wanita.
Andro disebut sebagai biseksual. Andro sudah sangat
jarang untuk ditemui diantara anak belok
karena jumlahnya yang sedikit dan mereka dapat berpenampilan selayaknya seorang
wanita dan juga dapat
berpenampilan seperti seorang
laki-laki. Terkadang wanita lesbian yang menempatkan dirinya menjadi Andro
lebih cenderung menutupi dirinya sebagai biseksual yang bertujuan untuk menjaga
perasaan pasangan yang sejenis
dengan dirinya ataupun pasangan yang berjenis kelamin
berbeda dengan dirinya.
Namun ada juga Andro yang hanya mencintai pasangan
sejenis yang terbagi atas dua jenis Andro
yaitu Andro Butchy
(AB) dan juga
Andro Femme (AF). AB yaitu wanita yang berpenampilan tomboy yang
menjalin hubungan bersama Femme sedangkan AF adalah wanita yang berpenampilan
tomboy akan tetapi menjalin hubungan dengan seorang butchy. Bagi wanita lesbian
yang menempatkan diri sebagai No Label, wanita lesbian ini tidak menetapkan
labelnya, namun tetap menjalani hubungan dengan sesama jenis.
Komunitas ini menggunakan bendera pelangi, yang umumnya
disebut bendera gay dan bendera LGBT, adalah sebuah simbol dari lesbian, gay,
biseksual, dan transgender (LGBT) dan gerakan sosial LGBT. (Penggunaan lainnya
dari bendera-bendera pelangi meliputi sebuah simbol perdamaian.) Warna-warnanya
merefleksikan keragaman komunis LGBT, dan bendera tersebut sering kali
digunakan sebagai sebuah simbol gay saat bendera tersebut dibawa- bawa pada
pawai-pawai hak asasi LGBTQ+. Bendera tersebut bermula di California Utara,
tetapi sekarang digunakan di seluruh dunia.
Dirancang oleh artis San Francisco Gilbert Baker pada
1978, rancangan tersebut mengalami beberapa revisi mula-mula menghilangkan
kemudian menambahkan kembali warna-warna karena ketersediaan ruang kain. Pada
2008, varian paling umum terdiri dari enam strip, dengan warna merah, jingga,
kuning, hijau, biru dan violet. Bendera tersebut umumnya dikibarkan secara
horizontal, dengan strip merah di bagian atas, seperti halnya pelangi alam.
2.4.
Kegiatan LGBTQ+ Community
Rata-rata dibentuk nya Komunitas LGBT adalah lebih
memperjuangkan Hak dasar setiap manusia pada umumnya, HAM menjadi dasar bagi
pendukung komunitas LGBT. Salah satu hak mendasar yang harus dimiliki oleh
setiap manusia adalah kebebasan untuk mencintai individu lain dan melakukan
legalisasi hubungan percintaan mereka dalam lembaga sosial berupa pernikahan
tanpa melihat jenis kelamin, suku, ras, agama, atau kelompok sosial yang
melatarbelakangi keduanya (Tahmindjis, 2014: 121).
Presiden Barack Obama memberikan pernyataan bahwa LGBT
merupakan bagian dari HAM, untuk merayakan martabat setiap manusia, dan untuk
menggarisbawahi bahwa setiap manusia berhak untuk hidup yang bebas dari
ketakutan, kekerasan, dan diskriminasi terlepas dari siapa mereka dan siapa
yang mereka cintai. Pernyataan tersebut di sampaikan pada perayaan Hari
Internasional Melawan Homofibia dan Transfobia (IDAHOT) yang dirayakan setiap
tahun sejak 17 Mei 1990, tanggal dihapuskannya homoseksual dari kategori
penyakit mental oleh Organisasi Kesehatan Dunia WHO (IDAHOT,2015).
Untuk di Indonesia sendiri dikutip dari BBC News
"Perjuangan yang dimaksud Dede Oetomo -- pendiri Gaya Nusantara,
organisasi nirlaba yang fokus memperjuangkan hak-hak LGBTIQ -- adalah aspirasi
untuk tidak didiskriminasi dalam kehidupan sehari-hari atas dasar orientasi
seksual, identitas, dan ekspresi gender." di Indonesia nama komunitas
LGBT yang mewadahi kaum LGBTbernama HIMAG. HIMAG menyediakan sarana dan
prasarana bagi para penganut LGBT untuk dapat menumpahkan segala keluh
kesahnya, bahkan untuk mencari pasangan yang senasib dengan mereka.
Organisasi-organisasi ini memfasilitasi, menaungi, menampung segala sesuatu
yang berkaitan dengan orientasi seksualitas. Kebanyakan organisasi yang berdiri
merupakan atas dasar pemikiran para penganut LGBT untuk dapat terus
memperjuangkan haknya. (Anonim, 2012).
Berikut beberapa hak hak yang
diperjuangkan Komunitas LGBT:
1.
Tindakan homoseksual legal (sejak 1811)
2.
Batas umur yang setara dengan heteroseksual
3.
Hukum anti-diskriminasi dalam pekerjaan
4.
Hukum anti-diskriminasi dalam penyediaan barang dan jasa
5.
Hukum anti-diskriminasi dalam hal lain (seperti diskriminasi tak langsung,
kejahatan kebencian)
6.
Pernikahan sesama jenis (sejak 1 April 2001, pertama
di dunia)
7.
Pengakuan pasangan sesama jenis
8.
Adopsi anak oleh pasangan sesama jenis
9.
Gay boleh menjadi tentara
10. Hak untuk mengubah gender
11. LSL boleh menyumbangkan darah
2.5.
Legalisasi LGBTQ+ Community di Indonesia
Sebagian besar partai politik utama dan politisi tetap
diam dalam penyebab hak-hak LGBT.
Partai-partai Islam seperti Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dan Partai
Persatuan Pembangunan (PPP) berbicara keras menentang hak- hak LGBT dan
melangkah lebih jauh untuk mengusulkan RUU nasional untuk mengkriminalisasi
LGBT. Pada bulan Maret 2016, PKS dan PPP mengusulkan RUU anti-LGBT untuk
melarang aktivisme LGBT, dan mengkriminalisasi hak dan perilaku LGBT. Partai
Amanat Nasional (PAN), meskipun berbagi sentimen hak anti-LGBT dengan PKS dan
PPP, telah meminta orang untuk tidak mendiskriminasi dan melecehkan komunitas
LGBT. Namun, sebagai imbalannya, mendesak orang-orang LGBT untuk tidak
mempromosikan hak-hak LGBT di
Indonesia.
Saat ini, tidak ada partai politik di Indonesia yang
secara terbuka mendukung gerakan hak-hak LGBT. Namun, pada Oktober 2016,
Presiden Joko Widodo menyatakan bahwa ia adalah pembela hak-hak LGBT dan bahwa
orang- orang LGBT harus memiliki hak untuk tidak didiskriminasi. Juga, beberapa
politisi dari PDI-P (Partai Perjuangan Demokrasi Indonesia) dan PKB yang cukup
konservatif (Partai Kebangkitan Nasional) telah mendukung dukungan untuk hak-
hak LGBT. Lebih lanjut PDI-P menyatakan bahwa sebagai partai pluralis, mereka
dapat menerima keberadaan orang-orang LGBT. Meskipun berpendapat bahwa
itu adalah perilaku menyimpang, PDI-P telah mendesak orang untuk mentolerir
orang-orang LGBT dan tidak memperluas sentimen permusuhan terhadap mereka.
Beberapa tokoh militer menggunakan teori konspirasi
retorika. Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu menyebut gerakan LGBT sebagai
"perang proksi" untuk mencuci otak orang Indonesia, dan mengklaim
bahwa mereka menerima "dana asing", menunjuk ke dana dari organisasi
PBB seperti UNAIDS atau pemerintah dan yayasan Barat. Ada beberapa insiden
orang LGBT dilecehkan. Kelompok-kelompok LGBT sekarang berupaya membangun
rumah- rumah aman dan menyusun rencana evakuasi jika dibutuhkan. Di Yogyakarta,
pada Februari 2016, 23 aktivis LGBT dihajar oleh polisi, yang mengatakan kepada
media setempat bahwa mereka menghentikan mereka dari menggelar unjuk rasa untuk
menghindari bentrokan dengan kelompok Muslim garis keras yang mengadakan protes
anti-LGBT di dekatnya.
Di tahun 1982, kelompok kepentingan hak-hak gay pertama
didirikan di Indonesia. "Lambda Indonesia" dan organisasi serupa
lainnya muncul pada akhir 1980-an dan 1990-an. Saat ini, beberapa asosiasi LGBT
utama di negara ini termasuk "GAYa NUSANTARA" dan "Arus
Pelangi". Gerakan gay dan lesbian di Indonesia adalah salah satu yang
tertua dan terbesar di Asia Tenggara. Kegiatan Lambda Indonesia termasuk
mengorganisir pertemuan sosial, peningkatan kesadaran dan membuat buletin,
tetapi kelompok itu bubar pada 1990-an. Gaya Nusantara adalah kelompok hak-hak
gay yang berfokus pada masalah homoseksual seperti AIDS. Kelompok lain adalah
Yayasan Srikandi Sejati, yang didirikan pada tahun 1998. Fokus utama mereka
adalah masalah kesehatan tentang orang-orang transgender, dan pekerjaan mereka
termasuk menyediakan konseling HIV / AIDS dan kondom gratis untuk pekerja seks
transgender di sebuah klinik kesehatan gratis.
Sekarang ada lebih dari tiga puluh kelompok LGBT di
Indonesia. Yogyakarta, Indonesia, menjadi tuan rumah KTT 2006 tentang hak-hak
LGBT yang menghasilkan Prinsip-prinsip Yogyakarta tentang Penerapan Hukum Hak
Asasi Manusia Internasional dalam kaitannya dengan Orientasi Seksual dan
Identitas Gender. Namun, pertemuan puncak pada Maret 2010 di Surabaya
disambut dengan kecaman dari Majelis Ulama Indonesia dan diganggu oleh
pengunjuk rasa konservatif. Pada 2015, kemenangan gerakan hak-hak LGBT di
negara-negara Barat telah memiliki implikasi yang signifikan di Indonesia.
Karena banyak negara Barat yang berpengaruh mulai melegalkan pernikahan sesama
jenis sejak tahun 2001, masalah hak LGBT telah menarik perhatian dan kesadaran
masyarakat umum di Indonesia dan menghasilkan wacana publik. Pendapat populer
terpecah menjadi beberapa sikap, dan reaksi utamanya tidak positif. Elemen
sayap kanan dalam politik Indonesia, terutama partai dan organisasi berbasis
keagamaan telah secara terbuka mengutuk hak-hak LGBT. Beberapa berpendapat
bahwa saat ini, Indonesia berada di bawah ancaman "propaganda" LGBT
global, yang mempromosikan "gaya hidup LGBT". Perkawinan sesama jenis
atau serikat sipil menjadi isu utama yang dibahas di depan umum mengenai
hak-hak LGBT, meskipun para aktivis LGBT berpendapat bahwa saat ini mereka
tidak memperjuangkan pernikahan sesama jenis, tetapi hanya mencari hak asasi
manusia yang mendasar dari keamanan, kebebasan dari ketakutan dan kebebasan.
perakitan. Komik Alpantuni menggambarkan karakter gay Indonesia yang menghadapi
sentimen anti-LGBT. Akun Instagram-nya kemudian ditutup oleh pihak berwenang.
Namun, dia bisa mengaktifkannya kembali nanti.
Indonesia memiliki lebih banyak Muslim daripada negara
lain di dunia dengan 87% penduduknya mengidentifikasi diri mereka sebagai
Muslim. Kebijakan keluarga dari pihak berwenang, tekanan sosial untuk menikah
dan agama berarti bahwa homoseksualitas pada umumnya tidak didukung. Kedua
Muslim modernis dan tradisionalis serta kelompok agama lain seperti Kristen,
terutama Katolik Roma, umumnya menentang homoseksualitas. Banyak kelompok
fundamentalis Islam seperti FPI (Front Pendukung Islam) dan FBR (Forum Dewan Betawi)
secara terbuka memusuhi orang-orang LGBT dengan menyerang rumah atau karya
mereka yang mereka yakini merupakan ancaman terhadap nilai-nilai Islam.
Diskriminasi eksplisit dan homofobia dengan kekerasan
dilakukan terutama oleh para ekstremis agama, sementara diskriminasi halus dan
marginalisasi terjadi dalam kehidupan sehari-hari di antara teman, keluarga, di
tempat kerja atau sekolah. Orang LGBT sering menderita pelecehan oleh tangan
polisi, tetapi sulit untuk didokumentasikan karena para korban menolak
memberikan pernyataan karena seksualitas mereka.
Orang LGBT sering ditangkap atau didakwa karena
orientasi seksual mereka. Gay di penjara sering mengalami pelecehan seksual
karena orientasi seksual mereka, dan sering tidak melaporkannya karena trauma
dan takut dikirim kembali ke penjara untuk menderita pelecehan lebih lanjut.
Indonesia memang memiliki reputasi sebagai negara Muslim yang relatif moderat
dan toleran, yang memang memiliki beberapa aplikasi untuk orang-orang LGBT. Ada
beberapa orang LGBT di media, dan pemerintah nasional telah mengizinkan komunitas
LGBT yang diam-diam ada, yang terkadang menyelenggarakan acara publik. Namun,
adat-istiadat sosial Islam konservatif cenderung mendominasi dalam masyarakat
yang lebih luas. Homoseksualitas dan cross-dressing tetap tabu dan secara
berkala orang LGBT menjadi sasaran hukum agama setempat atau kelompok main
hakim sendiri fanatik.
Pada Januari 2018, polisi Aceh menggeledah ruang tamu
dengan dukungan dari pemerintah otonom Aceh. Polisi menyiksa semua warga LGBT
di dalam ruang tamu, mencukur kepala perempuan transgender, menanggalkan baju
dan bra mereka, dan mengarak mereka di jalan sambil memaksa berteriak 'untuk
menjadi laki-laki'. Acara ini dikritik oleh organisasi hak asasi manusia.
Di sisi lain, di tengah permusuhan sengit, beberapa
pejabat - termasuk mantan Gubernur Jakarta Basuki Tjahaja Purnama dan mantan
Menteri Urusan Politik, Hukum, dan Keamanan Luhut Binsar Panjaitan - telah
membela komunitas LGBT. "Siapa pun mereka, di mana pun mereka bekerja, ia terus menjadi warga negara Indonesia.
Mereka memiliki hak untuk dilindungi juga," kata Panjaitan. Presiden Joko
Widodo juga menyatakan dukungan untuk hak-hak LGBT dan menyerukan diakhirinya diskriminasi.
Pada tahun 2018, kota Pariaman di Sumatra mengeluarkan
peraturan untuk mendenda penduduk gay dan waria sebesar 1 juta rupiah Indonesia
($ 70) karena mengganggu "ketertiban umum" dengan melarang
"tindakan yang dianggap LGBT". Peraturan tersebut melarang
"tindakan tidak bermoral" antara pasangan sesama jenis dan melarang
penduduk "bertindak sebagai waria". Beberapa kota di provinsi
Sumatera Barat, telah mengambil langkah untuk memarginalkan kelompok LGBT.
Pada bulan Juni 2019, kepala lembaga kependudukan dan
keluarga berencana Indonesia Nofrijal telah menyebut warga LGBT sebagai 'musuh
utama pembangunan nasional'. Menurut jajak pendapat tahun 2017 yang dilakukan
oleh ILGA, 32% orang Indonesia setuju bahwa orang gay, lesbian dan biseksual
harus menikmati hak yang sama dengan orang straight, sementara 47% tidak
setuju. Selain itu, 37% setuju bahwa mereka harus dilindungi dari diskriminasi
di tempat kerja. 38% orang Indonesia, bagaimanapun, mengatakan bahwa
orang-orang yang memiliki hubungan sesama jenis harus dituduh sebagai penjahat,
sementara 36% tidak setuju. Sedangkan untuk waria, 49% setuju bahwa mereka
harus memiliki hak yang sama, 55% percaya bahwa mereka harus dilindungi dari
diskriminasi pekerjaan, dan 41% percaya bahwa mereka harus diizinkan untuk
mengubah gender hukum mereka.
Instansi pemerintah perlahan mulai memberlakukan
kebijakan anti- diskriminasi. Kantor Kejaksaan Agung baru-baru ini membatalkan
tawaran pekerjaan publik yang menyatakan bahwa orang-orang LGBT tidak perlu
melamar karena kegilaan mental setelah dinasihati oleh Komisi Hak Asasi Manusia Nasional.
2.6. Pandangan Masyarakat Dunia dan Legalisasinya pada LGBTQ+
Community
Perkembangan opini menuju >50% terus meningkat
seiring tahun berjalan di Australia, Sebuah jajak pendapat yang dilakukan oleh
University of Melbourne pada bulan September 2016 menemukan bahwa Maranoa, di
barat daya Queensland, adalah satu-satunya pemilih di negara di mana mayoritas
pemilih
menentang pernikahan sesama jenis. Sepuluh pemilih yang paling mendukung
pernikahan sesama jenis adalah Sydney, Melbourne, Grayndler, Wentworth,
Melbourne Ports, Wills, Gellibrand, Batman, Higgins, dan Brisbane. Kurang dari
10% di Sydney dan Melbourne menentang untuk mengizinkan pasangan sesama jenis
menikah.
Sebuah jajak pendapat Essential Media pada bulan Juli
2017 menemukan bahwa 63% responden percaya pasangan sesama jenis harus
diizinkan untuk menikah, 25% responden percaya pasangan sesama jenis tidak
boleh menikah dan 12% tidak tahu. Menanggapi pertanyaan "apakah menurut
Anda masalah pernikahan sesama jenis harus diputuskan oleh Parlemen atau
haruskah ada suara nasional", 59% memilih suara nasional, 29% mengatakan
itu harus diputuskan oleh parlemen dan 12% menanggapi "tidak tahu".
Di Singapura, sejak pertengahan 1970-an, orang-orang
transeksual pasca- operasi diam-diam melobi untuk diberikan hak untuk menikahi
pasangan lawan jenis. Pada tahun 1996, sebuah RUU diajukan sebelum Parlemen
Singapura dan Piagam Wanita diubah untuk membaca:
Menghindari pernikahan antara
orang yang berjenis kelamin sama.
(1)
Suatu pernikahan yang digelar secara resmi di
Singapura atau di tempat lain di antara orang-orang yang, pada saat pernikahan,
tidak masing- masing pria dan wanita akan batal.
(2)
Dengan ini dinyatakan bahwa, tunduk pada bagian 5, 9,
10, 11 dan 22, suatu pernikahan yang dirayakan di Singapura atau di tempat lain
antara seseorang yang telah menjalani prosedur penggantian kelamin dan siapa
pun dari lawan jenis adalah dan harus dianggap selalu merupakan pernikahan yang sah.
(3) Untuk keperluan bagian ini
(a)
jenis kelamin pihak mana pun dalam suatu pernikahan
sebagaimana dinyatakan pada saat pernikahan dalam kartu identitasnya yang
dikeluarkan berdasarkan Undang-Undang Registrasi Nasional (Cap. 201) adalah
bukti prima facie dari jenis kelamin pihak tersebut; dan
(B) seseorang yang telah menjalani prosedur penggantian
kelamin harus diidentifikasi sebagai jenis kelamin yang orang tersebut telah
dipindahkan.
(4)
Tidak ada dalam ayat (2) akan memvalidasi pernikahan
semacam itu yang telah dinyatakan oleh Pengadilan Tinggi sebelum 1 Mei 1997
menjadi batal demi hukum dengan alasan bahwa para pihak dari jenis kelamin yang sama.
Menteri yang menggerakkan RUU itu berpendapat bahwa
sejak 1973, niat pemerintah adalah untuk orang-orang yang telah mengubah gender
/ jenis kelamin untuk menjalani kehidupan sesuai dengan gender baru mereka,
termasuk hak untuk menikah. Melalui pengawasan, hukum yang berkaitan dengan
pernikahan belum disejajarkan dengan kebijakan resmi untuk mengakui operasi
penggantian kelamin. Sekarang setelah pengadilan menerangi ketidakkonsistenan
ini setelah kasus penting di mana seorang wanita mencari dan memenangkan
pembatalan pernikahannya dengan seorang pria trans (Lim Ying v Hiok Kian Ming
Eric), perlu untuk mengubah Piagam Wanita untuk memastikan bahwa niat asli
tidak dirusak. Orang transgender secara resmi dikabulkan keinginan mereka pada
24 Januari 1996 melalui pengumuman oleh anggota parlemen Abdullah Tarmugi tanpa
banyak kemeriahan publik atau oposisi.
Boom Boom Room adalah satu-satunya klub malam cabaret
drag queen di Singapura dan dianggap oleh banyak orang sebagai satu-satunya
lembaga nasional Singapura yang nyata dalam semangat tanpa hambatan yang sama
dengan Bugis Street yang asli. Ini adalah senama dari klub blues legendaris
John Lee Hooker di San Francisco, yang terkenal di dunia internasional ketika
majalah postmodernis Wallpaper menyebutnya "pilihan utama kami untuk malam
yang baik di seluruh Asia!"
Awalnya didirikan oleh pemilik Alan Koh pada tahun 1993
di 4 New Bugis Street di Bugis Village, kemudian dipindahkan pada tanggal 2
April 2000 ke lantai dua gedung sekolah Sekolah Chui Eng 2 lantai gratis di
130-132 Amoy Street, Far East Square ( 10 menit jalan kaki dari stasiun MRT
Raffles Place). Tempat baru, yang terkenal memiliki Singapore Sling terbaik di
kota, memiliki restoran di lantai bawah untuk santapan informal dan outdoor.
Daya tariknya yang luar biasa adalah rutinitas komedi
agak bersifat cabul oleh superstar drag lokal Kumar yang melakukan penggalian
tanpa larangan di topik yang dekat dengan hati orang Singapura. Dia dibantu
oleh banyak rekannya yang flamboyan, berkostum memesona, back-dressing back up,
toyboy yang lincah dan teman-teman pelawak lainnya.
Pertunjukan pertama debut pada 18 Agustus 2000. Ada 2
pertunjukan setiap malam dan wisecrack keterlaluan, di Singlish mentah yang
membuat olok- olok wisatawan sulit dipahami, diselingi dengan DJ memainkan
lagu-lagu grafik terbaru. Anggota audiens yang duduk di sebelah panggung
memiliki risiko tertinggi untuk ditarik ke dalam pertunjukan. Itu dilindungi
oleh audiens yang sebagian besar heteroseksual yang menari liar selama interval,
tetapi Selasa malam gay dengan akses hanya diberikan kepada pemegang kata sandi.
Itu ditutup setelah 12 tahun pada tanggal 15 Januari
2005, dilaporkan untuk memungkinkan senimannya untuk beralih ke kegiatan
kreatif baru. Namun, banyak yang mengira alasan lain adalah karena
pertunjukannya sudah basi, waria sudah tua (Kumar 36) tanpa darah segar untuk
membawa obor dan yang sudah ada tidak memiliki apa yang diperlukan, dan lokasi
klub yang buruk. Ini melahirkan versi spoof yang disebut Ruang Bang Bang di
Desa Changi yang mengadakan pertunjukan larut malam setiap akhir pekan.
Sedangkan di Iran, masih ada banyak stigma yang melekat
pada gagasan transgender dan penugasan gender di masyarakat Iran biasa, dan
kebanyakan orang transgender, setelah menyelesaikan transisi mereka, disarankan
untuk mempertahankan kebijaksanaan tentang masa lalu mereka. Orang-orang Trans
dikenakan diskriminasi pekerjaan, penolakan oleh keluarga dan komunitas mereka,
pelecehan oleh polisi, dan depresi. Karena mereka biasanya ditolak oleh
keluarga dan jaringan sosial mereka, di mana orang Iran biasanya mencari
dukungan keuangan dan peluang kerja, mereka sering dipaksa menjadi pekerja seks
dan kadang-kadang bunuh diri. Orang-orang yang ingin terlibat dalam hubungan
seksual dengan orang-orang dari jenis kelamin yang sama mungkin merasa ditekan
untuk menjalani operasi agar hubungan mereka dilegitimasi oleh
negara melalui
pernikahan karena pernikahan adalah institusi yang sangat penting di Iran.
Pada pertengahan 1930-an di Cina, setelah ayah Yao
Jinping ( 姚 錦 屏 ) hilang selama
perang dengan Jepang, pria berusia 19 tahun itu melaporkan telah kehilangan
semua sifat feminin dan menjadi seorang pria, dikatakan memiliki jakun Adam dan
dada rata, dan pergi untuk menemukannya. Du He, yang menulis akun acara
tersebut, menegaskan Yao telah menjadi seorang pria, sementara dokter
menyatakan Yao adalah wanita. Kisah ini dilaporkan secara luas di media, dan
Yao telah dibandingkan dengan Lili Elbe, yang menjalani penggantian kelamin
pada dekade yang sama. Jenis kelamin dan jenis kelamin bisa dibilang banyak di
akhir dinasti Ming dan awal Qing karena banyak bayi perempuan dipaksa melakukan perubahan jenis kelamin menjadi
laki-laki. Hal ini, pada gilirannya, memengaruhi anak-anak itu untuk menjalani
kehidupan transgender, baik melalui transformasi fisik atau — jika tidak ada
perubahan jenis kelamin — terus-menerus melakukan cross-dressing.
Komunitas gay dan lesbian pertama yang tercatat mulai
berkembang pada awal 1990 di Beijing, namun homoseksualitas adalah topik yang
relatif sensitif hingga awal 2000-an. Pengenalan internet pada tahun 1998
memungkinkan media yang nyaman bagi para aktivis LGBT untuk terhubung dan
berkomunikasi. Ruang obrolan online adalah sumber yang bagus untuk organisasi
LGBT akar rumput. Selain internet, keberadaan komunitas LGBT di Cina berkembang
sangat cepat karena wabah, penyebaran, dan pendanaan internasional dan
pemerintah berikutnya untuk pencegahan HIV / AIDS. Pada tahun 1996, dana terkait
AIDS dari pemerintah hanya lebih dari $ 500.000 tetapi pada tahun 2001 angka
ini mencapai hampir $ 10 juta per tahun. Krisis kesehatan publik AIDS tetap
menjadi salah satu variabel yang paling berpengaruh bagi kebangkitan kelompok
LGBT di seluruh dunia. Namun pendanaan ini sebagian besar difokuskan pada
kelompok gay sehingga kelompok minoritas seksual lainnya berkembang lebih
lambat. Pusat LGBT Beijing (Beijing Tongzhi Zhongxin) terutama terdiri dari
empat organisasi: Organisasi AIDS Aizhixing, Organisasi Tongyu Lala, Pusat
Pendidikan dan Kebudayaan Aibai, dan Les +. Tongyu Lala adalah organisasi yang
berbasis di
Beijing yang memerangi diskriminasi terhadap dan merupakan advokasi untuk
inklusi sosial lesbian, perempuan biseksual, dan orang transgender. Grup ini
juga membantu mengorganisir kelompok LGBT di Cina. Ada sejumlah acara penting
yang berfokus pada mempromosikan hak-hak LGBT dan setara di Cina termasuk Hari
Internasional Melawan Homofobia, Biphobia dan Transphobia, Festival Film Queer
Beijing, dan parade kebanggaan gay yang diadakan di Beijing, Shanghai dan
Guangzhou (lihat Kebanggaan Hong Kong) Parade dan Shanghai Pride).
Pemuda transgender di Tiongkok menghadapi banyak
tantangan. Satu studi menemukan bahwa orang tua Tionghoa melaporkan 0,5% (1: 200) dari 6
sampai 12 tahun anak laki-laki mereka dan 0,6% (1: 167) anak perempuan
sering atau selalu ‘menyatakan keinginan untuk menjadi jenis kelamin lain’.
0,8% (1,125) dari mahasiswa berusia 18 hingga 24 tahun yang merupakan laki-laki
yang ditugasi kelahiran (yang jenis kelamin / gendernya ditunjukkan pada kartu
identitas mereka adalah laki-laki) melaporkan bahwa 'jenis kelamin / gender
yang saya rasakan di hati saya' adalah perempuan, sementara 0,4% lainnya
menunjukkan bahwa gender yang dirasakan mereka adalah 'lain'.
Di antara perempuan yang ditugaskan untuk melahirkan,
2,9% (1:34) mengindikasikan bahwa mereka menganggap jenis kelamin mereka
sebagai laki- laki, sementara 1,3% lainnya menunjukkan 'yang lain'. Seorang
pria transgender menceritakan masa kecilnya sebagai seorang yang penuh dengan
kebingungan dan intimidasi sebaya. Di sekolah ia diejek karena menjadi tomboi
dan secara teratur didisiplinkan oleh guru karena menunjukkan perilaku seperti
anak laki-laki yang gaduh. Beberapa merekomendasikan kepada orang tuanya agar
ia dilembagakan. Sikap-sikap ini mungkin perlahan berubah dan banyak pemuda
Tiongkok mampu menjalani kehidupan yang bahagia dan disesuaikan dengan baik
sebagai anggota komunitas LGBT + di Cina modern. [5] Pada Juli 2012, BBC
melaporkan bahwa ekonomi terbuka baru telah menyebabkan lebih banyak kebebasan
berekspresi seksual di Tiongkok.
Argentina, pada tanggal 8 November 2011, penulis dan
Komisi Legislasi dan Keadilan Umum dari Kongres Nasional membahas RUU yang
diajukan oleh wakil-wakil Diana Conti, Juliana Di Tullio [es], dan Silvana
Giudici [es], dan
menyetujui pengirimannya untuk diproses lebih lanjut. Pada 1 Desember
2011, Kamar Deputi menyetujui rancangan undang-undang dengan 167 suara
mendukung, 17 menentang, dan 7 abstain. UU Identitas Gender telah disetujui
oleh Senat pada 9 Mei 2012, dengan 55 suara mendukung dan satu abstain. Itu
diumumkan secara resmi oleh Keputusan No. 773/2012 dari Kekuatan Eksekutif
Nasional pada 24 Mei 2012 dan membawa nomor 26.743. Undang-undang itu diatur
dengan Keputusan 1007/2012. Registry Nasional Orang [es] menjadi unit khusus
untuk saran dan bantuan mengenai hal-hal dalam ruang lingkup hukum. Pada
tanggal 26 Mei, Kantor Komisaris Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia
mengeluarkan pernyataan selamat atas undang-undang tersebut, dengan mengatakan
"Argentina telah mengambil langkah penting untuk menjamin kesetaraan, rasa
hormat, dan martabat bagi orang-orang trans."
Di Papua Nugini, hubungan sesama jenis adalah bagian
integral dari budaya suku-suku tertentu hingga pertengahan abad terakhir. Etoro
dan Marind- anim misalnya, bahkan memandang heteroseksualitas sebagai
pemborosan dan merayakan homoseksualitas sebagai gantinya. Mereka percaya bahwa
dalam berbagi air mani, mereka berbagi kekuatan hidup mereka, namun wanita
hanya menyia-nyiakan kekuatan ini setiap kali mereka tidak hamil setelah
berhubungan seks. Dalam budaya Melanesia tradisional tertentu, seorang anak
laki-laki prapubertas akan dipasangkan dengan seorang remaja yang lebih tua
yang akan menjadi mentornya dan yang akan "membuahi" dia (secara
lisan, anal, atau topikal, tergantung pada suku) selama beberapa tahun agar
lebih muda untuk juga mencapai pubertas.
Menurut sistem gender Bugis, calabai umumnya ditugaskan
laki-laki saat lahir tetapi mengambil peran perempuan heteroseksual. Mode dan
ekspresi gender mereka jelas feminin tetapi tidak cocok dengan wanita cisgender
"khas". Calabai merangkul feminitas mereka dan hidup sebagai
perempuan, tetapi tidak menganggap diri mereka perempuan, tidak ingin menjadi
perempuan atau merasa terjebak dalam tubuh laki-laki, dan mereka dihormati oleh
masyarakat. Mereka didukung oleh keluarga, dan pria menerimanya sebagai pria,
hidup dalam perwujudan feminin. Calalai ditugaskan perempuan saat lahir tetapi
mengambil
peran laki-laki heteroseksual. Mereka berpakaian dan menampilkan diri
sebagai laki-laki, memegang pekerjaan maskulin dan biasanya tinggal bersama
pasangan perempuan untuk mengadopsi anak.
Arab Saudi tidak memiliki undang-undang yang menentang
diskriminasi berdasarkan orientasi seksual atau identitas gender. Pelecehan
atau kekerasan terhadap orang LGBT tidak dibahas dalam undang-undang kejahatan
yang bermotivasi bias atau kebencian. Advokasi untuk hak-hak LGBT adalah ilegal
di dalam kerajaan dan satu-satunya kelompok yang melakukannya tampaknya adalah
Partai Hijau Arab Saudi. Dokumen visa keluar dan masuk yang diminta tidak
menanyakan orang tentang orientasi seksual mereka, seperti halnya
kewarganegaraan, jenis kelamin, agama dan status perkawinan mereka. Pada 2011,
Mirel Radoi, pemain sepak bola Rumania yang bermain untuk Saudi Alhilal Club,
didenda 20.000 Riyal Saudi dan diskors selama dua pertandingan setelah
memanggil seorang pemain sepak bola Arab Saudi, Hussein Abdul Ghani, yang
bermain untuk Nasr Club, gay. Komentar publik, dimaksudkan sebagai penghinaan,
sangat kontroversial dan menghasilkan liputan yang cukup di pers Saudi,
termasuk penolakan Hussein Abdul Ghani untuk berjabat tangan dengan Mirel Radoi
setelah pertandingan nanti.
Pada awal 2000-an di Palestina, dua kelompok didirikan
untuk memberikan dukungan kepada orang-orang Palestina lesbian, gay, biseksual,
trans, aneh, dan mempertanyakan (LGBTQ) yang tinggal di dalam perbatasan
Israel, Jalur Gaza dan Tepi Barat. Al Qaws ("Pelangi" dalam bahasa
Arab), organisasi resmi LGBTQ Palestina pertama, didirikan pada tahun 2001
sebagai proyek komunitas Open House Jerusalem untuk Pride and Tolerance untuk
secara khusus menangani kebutuhan LGBTQ orang-orang Palestina yang tinggal di
Yerusalem. Al-Qaws telah berkembang sejak didirikan dan sekarang
menyelenggarakan kegiatan sosial di Yerusalem, Haifa, Jaffa dan Tepi Barat
sebagai arena dukungan bagi anggota komunitas Palestina LGBTQ. Al Qaws juga
menyelenggarakan saluran dukungan telepon.
Pada tahun 2002, kelompok kedua dibentuk untuk secara
khusus menangani kebutuhan perempuan lesbian Palestina; Aswat
("Suara" dalam bahasa
Arab) didirikan sebagai proyek LSM Feminis Palestina Kayan, di Pusat
Feminis Haifa. Aswat memulai sebagai daftar email anonim yang melayani untuk
memberikan dukungan kepada wanita gay Palestina, dan telah berkembang menjadi
kelompok kerja yang mapan yang menyelenggarakan pertemuan bulanan untuk sekitar
60 anggotanya, dan mengorganisir ceramah, acara, dan peluang pendidikan. Aswat
menerjemahkan dan menerbitkan teks asli terkait seksualitas dan identitas
gender yang sebelumnya tidak tersedia dalam bahasa Arab, dan menjadi tuan rumah
koleksi teks berbahasa Arab terbesar yang terkait dengan homoseksualitas di
situs webnya. Aswat bekerja untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang
identitas "Palestina," "Gay" dan "Perempuan."
Pada 2015 seorang seniman Palestina bernama Khaled
Jarrar melukis bendera pelangi di bagian dinding Tepi Barat. Sekelompok orang
Palestina melukis di atasnya. Jarrar mengatakan bahwa ia melukis bendera
pelangi untuk mengingatkan orang-orang bahwa meskipun pernikahan sesama jenis
dilegalkan di Amerika Serikat, warga Palestina masih hidup dalam pendudukan.
Jarrar mengkritik pelepasan itu, menyatakan bahwa itu "mencerminkan tidak
adanya toleransi, dan kebebasan dalam masyarakat Palestina."
Pada Agustus 2019, Otoritas Palestina melarang
organisasi komunitas LGBTQ beroperasi di Tepi Barat sebagai tanggapan atas
acara Al Qaws yang direncanakan. Larangan itu kemudian ditarik pada akhir bulan
setelah serangan balasan.
Mahmoud Hassino, seorang aktivis gay oposisi Suriah,
jurnalis yang memulai majalah online Mawaleh, mencatat bahwa terlepas dari
hasil perang saudara, pekerjaan harus dilakukan di bidang hak sipil atas nama
semua warga Suriah, bukan hanya komunitas LGBT. Miral Bioredda, seorang
pemimpin sekuler Komite Koordinasi Lokal Suriah, mengatakan, "Secara
pribadi saya melihat homoseksualitas sebagai masalah pribadi. Tetapi masyarakat
Suriah akan mengatakan" tidak mungkin "jika kaum gay bangkit untuk
mengklaim hak-hak mereka. Mengembangkan masyarakat sipil akan membutuhkan
waktu. " Nasradeen Ahme, anggota Tentara Pembebasan Suriah yang bekerja
untuk menjatuhkan pemerintah Bashar
al-Assad, mengatakan, "Jika saya bertanggung
jawab, saya akan menegakkan hukum yang lebih keras terhadap kaum
homoseksual. Jika seseorang mengatakan homoseksual harus dilempari batu sampai
mati seperti di Iran. dan Arab Saudi, saya tidak akan keberatan. "
2.7. Pandangan Masyarakat Indonesia pada LGBTQ+ Community
Informasi yang diperoleh dari Kemenkes secara
keseluruhan terdapat peningkatan jumlah Waria secara bermakna antara tahun 2002
dan 2009, tetapi tidak terdapat peningkatan bermakna dari tahun 2009 dan 2012.
Populasinya tidak ada yang pasti namun mengacu data populasi rawan terdampak
HIV jumlah waria diperkirakan mencapai 597 ribu orang, sedangkan Lelaki yang
seks dengan lelaki termasuk biseksual mencapai lebih dari 1 juta orang
[Kemenkes RI, 2014].
Sumber lain dari menyebutkan jika menggunakan prevalensi
dari populasinya bisa mencapai 3 juta. Sedangkan populasi lesbian belum banyak
diketahui. Pandangan masyarakat mengenai isu LGBT masih beragam tergantung
latar belakang budaya, agama, kelompok sosial, media, keluarga, pergaulan
sebaya, gender dan interaksi dengan individu LGBT [ Lehman & Thornwel ].
Tingkat penolakan, dan penerimaan terhadap LGBT sangat
tergantung pada faktor faktor di atas. LGBT di Indonesia masih merupakan hal
yang tabu khususnya bagi kelompok yang pemikirannya didasari agama. Sebagian
besar menghujat perilaku dan orientasi seksual kelompok LGBT ini. MUI bahkan
sudah mengeluarkan fatwa yang menolak praktek hubungan badan dan perkawinan
sesama jenis. Ada juga sebagian masyarakat bersikap netral, menerima keadaan
LGBT namun tidak mendukung LGBT melakukan kegiatan secara terbuka. Kelompok ini
beranggapan semua orang mempunyai hak yang sama untuk hidup, memenuhi hak hak
sebagai manusia namun tetap mempertimbangkan konteks lokal. Sedangkan kelompok
yang pendukung adalah kelompok LGBT, para aktivist dan penggerak kesetaraan
yang menginginkan LGBT juga punya hak yang sama tanpa batasan dalam konteks
apapun, termasuk dalam perkawinan
sejenis.
Sebagian besar masyarakat menolak keberadaan LGBT, khususnya
di sekitar lingkungan rumah. Masyarakat umumnya melihat keberadaan LGBT
sebagai suatu hal yang negatif, abnormal, dan kesalahan. Penolakan dan
pandangan tersebut didasarkan atas ajaran agama yang dianut sebagian besar oleh
masyarakat di Indonesia dan juga karena ada anggapan kuat bahwa Indonesia ialah
negara religius. Selain itu juga, minimnya interaksi atau informasi tentang
LGBT juga semakin menguatkan pandangan tersebut.
Selama ini informasi yang diterima adalah LGBT orang-orang
yang melulu berkaitan dengan perbuatan dosa. Sebagian besar menganggap LGBT
sebagai penyakit yang harus dihilangkan dan juga menakutkan bagi orang karena
bisa menular. Pendapat tersebut didasari atas ajaran agama dimana Allah
menghancurkan kaum LGBT (kisah nabi Luth). Oleh karena itu masyarakat takut
akan terkena bencana akibat keberadaan mereka Dalam kehidupan sehari-hari,
sebagian masyarakat juga tidak menolak apabila ada LGBT yang tinggal di
lingkungannya atau tidak keberatan bertetangga dengan mereka. Menurut informan,
hal tersebut disebabkan masyarakat mungkin telah lama berinteraksi dengan orang
LGBT tersebut. Selain itu, masyarakat tidak pernah (atau tidak akan)
mendiskriminasi (atau mengusir) LGBT yang bertetangga apabila mereka dikenal
dan berhubungan baik dengan orang-orangsekitar. Dalam kehidupan sehari-hari,
sebagian masyarakat juga tidak menolak apabila ada LGBT yang tinggal di lingkungannya atau tidak keberatan bertetangga
dengan mereka. Menurut informan, hal tersebut disebabkan masyarakat mungkin
telah lama berinteraksi dengan orang LGBT tersebut. Selain itu, masyarakat
tidak pernah (atau tidak akan) mendiskriminasi (atau mengusir) LGBT yang
bertetangga apabila mereka dikenal dan berhubungan baik dengan orang-orang sekitar.
BAB III PENUTUP KESIMPULAN
Karena kurangnya wawasan mengenai komunitas ini, banyak
sekali orang- orang salah mengira, diskriminasi, dan tidak berlaku yang
sebagaimana mestinya dan melupakan hakikat manusia yang sesungguhnya. Dengan
mengetahui pengetahuan umum mengenai komunitas LGBTQ+ ini, penulis berharap
pembaca dapat memahami asal-usul, fenomena, dan budaya yang ternyata berkaitan
dengan same-sex relationship, dan legalisasinya di dunia maupun Indonesia.
Penulis mengaku masih banyak salah kata ataupun fakta yang kurang sesuai, dan
penulis berharap kritik dan saran dari pembaca guna membantu penulis menjadi
lebih baik lagi.
DAFTAR PUSTAKA
Budiarty, A. (2011). Gaya Hidup Lesbian (Studi Kasus di Kota Makassar).
Universitas Hasanuddin.
Halgin, R. P. (2010). Psikologi Abnormal: Perspektif Klinis Pada
Gangguan Psikologis. Jakarta: Salemba Humanika.
Hartanto.
(2016). Hegemoni dalam Emansipatory: Studi Kasus Advokasi Legalisasi Lesbian,
Gay, Biseksual, dan Transgender (LGBT) di Indonesia.
Karnadi
Apollo, R. D. (2016). LGBT DI INDONESIA: Perspektif Hukum Islam, HAM, Psikologi
dan Pendekatan Maṣlaḥah. AL-AHKAM, 26(2), 223–248.
https://doi.org/2502-3209
Kartono, K. (2006). Psikologi Wanita 1: Mengenal Gadis Remaja
dan Wanita Dewasa. Mandar Maju.
Lathifa, D. (2020, January
28). Kenali 15 Jenis Orientasi Seksual
yang Ada di Dunia. Popbela.com. https://rb.gy/hrbwsw.
Lehman, M.,
& Thornwall, M. (2011). College Students’ Attitudes towards Homosexuality. Journal of Student Research, 118–138.
shorturl.at/lvzJT.
The National
Museum & Archive of Lesbian and Gay History. (1996). The Gay Almanac. Berkley Books.
Nevid, J. S. (2005). Psikologi Abnormal Jilid 2 (Vol. 2).
Erlangga Masthuriyah Sa’dan.
Nurkholis. (2013).
Faktor-faktor yang melatarbelakangi lesbian dan kondisi psikologisnya. Jurnal Online Psikologi.
Nurmala, D., Suyono, H.,
& Anam, C. (2006). Studi kasus perempuan lesbian (Butchy) di Yogyakarta. Indonesian Psychological Journal, 28–37.
Saputra, A. (2019). Inilah Ciri-ciri Pria Gay. WinNetNews.
https://www.winnetnews.com/post/inilah-ciri-ciri-pria-gay.
Sexual orientation laws in the world 2017. reddit. https://www.reddit.com/r/MapPorn/duplicates/6kdvek/sexual_orientation_la ws_in_the_world_2017/.
Subuh, dr. H. M. M. P. P. M.,
Tarmizi, dr. S. N. M. E., & Nugrahini, N. S. K. M.
M. K. M. (2012). Estimasi
Jumlah Populasi Kunci Terdampak HIV Tahun 2012. shorturl.at/btBJV.
Sumadi, N., Suriadi, & Kirana, W. (2013). Pengalaman Traumatik
dan Komunikasi Keluarga Tidak Efektif dalam Pembentukan Pribadi Penyimpangan
Seksual Lesbian. Jurnal Keperawatan.
Tarigan, M. (2012). Komunikasi Interpersonal Kaum Lesbian di
Kota Pontianak Kalimantan Barat. (dissertation). UNIVERITAS PEMBANGUNAN
NASIONAL “VETERAN,” Yogyakarta.
United Nations Development
Programme. (2019). (rep.). Laporan LGBT
Nasional Indonesia - Hidup Sebagai LGBT di Asia. Retrieved from
shorturl.at/xFLMZ
Wikimedia
Foundation. (2020, April 14). Gender in
Bugis society. Wikipedia. https://en.wikipedia.org/wiki/Gender_in_Bugis_society.
Wikimedia Foundation. (2020, April 7). Transgender people in Singapore.
Wikipedia.
https://en.wikipedia.org/wiki/Transgender_people_in_Singapore.
Wikimedia
Foundation. (2020, July 12). LGBT rights
in Syria. Wikipedia. https://en.wikipedia.org/wiki/LGBT_rights_in_Syria.
Wikimedia
Foundation. (2020, July 12). Transgender
rights in Iran. Wikipedia.
https://en.wikipedia.org/wiki/Transgender_rights_in_Iran.
Wikimedia
Foundation. (2020, July 16). LGBT rights
in Asia. Wikipedia. https://en.wikipedia.org/wiki/LGBT_rights_in_Asia.
Wikimedia
Foundation. (2020, July 2). LGBT rights
in Saudi Arabia. Wikipedia.
https://en.wikipedia.org/wiki/LGBT_rights_in_Saudi_Arabia.
Wikimedia Foundation. (2020, July 3). LGBT rights by country or territory.
Wikipedia.
https://en.wikipedia.org/wiki/LGBT_rights_by_country_or_territory.
Wikimedia Foundation. (2020, July 3). LGBT rights by country or territory.
Wikipedia.
https://en.wikipedia.org/wiki/LGBT_rights_by_country_or_territory.
Wikimedia Foundation. (2020, July 6). LGBT rights in the State of Palestine.
Wikipedia. https://en.wikipedia.org/wiki/LGBT_rights_in_the_State_of_Palestine.
Wikimedia
Foundation. (2020, March 20). LGBT.
Wikipedia. https://id.wikipedia.org/wiki/LGBT.
Wikimedia Foundation. (2020,
May 12). Public opinion of same-sex
marriage in Australia. Wikipedia.
https://en.wikipedia.org/wiki/Public_opinion_of_same- sex_marriage_in_Australia.
Wikimedia
Foundation. (2020, May 29). Transgender
in China. Wikipedia. https://en.wikipedia.org/wiki/Transgender_in_China.
Wikipedia.
(2019, September 27). Hak LGBT di Belanda.
Wikipedia. https://id.m.wikipedia.org/wiki/Hak_LGBT_di_Belanda.
Wikipedia.
(2020, June 28). LGBT rights in Indonesia.
Wikipedia. https://en.wikipedia.org/wiki/LGBT_rights_in_Indonesia.
Witt, L., Thomas, S., &
Marcus, E. (1997). Out in All Directions:
A treasury of Gay and Lesbian America. Warner Books.
Yansyah, R.,
& Rahayu. (2018). GLOBALISASI LESBIAN, GAY, BISEKSUAL, DAN TRANSGENDER
(LGBT): PERSPEKTIF HAM DAN AGAMA DALAM LINGKUP HUKUM DI INDONESIA. Jurnal Law Reform, 14(1), 132–146.

Gambar 2. Worldwide Laws



Komentar
Posting Komentar